Minggu, 15 Juli 2012

Makanan Khas Jogja


Bakmi Pentil



Eits, awas! Jangan salah menyebut nama bakmi ini. Kepleset sedikit ketika nyebut huruf è jadi é bisa berabe!
Bakmi ini disebut pentil karena bentuknya mirip dengan pentil sepeda. Itu loh, karet berwarna merah pada sistem katup pada ban jaman dulu. Kalo sekarang, ban berpentil sudah jarang digunakan.
Terbuat dari tepung kanji, membuat bakmi ini terasa kenyal dan ulet. Rasanya asin sehingga untuk memakannya perlu ditemani dengan sejumput sambel. Ada 2 jenis bakmi, yang kuning dan putih. Yang kuning ukurannya lebih besar dan tebal daripada yang putih, rasanya sih sama saja. jajanan ini bisa didapatkan di seputaran pasar beringharjo.


Wedang Secang


Wedang secang adalah salah satu minuman yang sangat baik untuk kesehatan terbuat dari kayu secang, ditambah gula batu, sere dan jahe.
Manfaat wedang secang antara lain dapat mengatasi gangguan pembuluh darah koroner yang menyempit. Selain itu, juga berfungsi mengurangi tekanan darah sehingga perdaran darah menjadi lancar. Anda dapat membuat sendiri wedang secang yang berkhasiat ini, cara membuatnya cukup mudah. Seperti menyeduh air, tuangkan air dan bahan secang ke dalam baskom. Setelah bahan-bahan dicuci, langsung masukkan ke dalam baskom bersama air yang akan diseduh. Setelah mendidih matang, air secang bisa diminum. Tuang dalam gelas. Beri gula pasir atau gula batu seperlunya. Nikmat rasa tak terkira. Hangat tubuh serasa disinari matahari pagi.
Saat ini bahkan sudah ada wedang secang dalam kemasan celup yang mudah aplikasinya. sekiranya anda ingin menikmati wedang secang dengan suasana berbeda dapat ikut dalam paket ziarah di makam Panembahan Senopati di komplek makam Kotagede.


 
Kue Moto Kebo


Seperti namanya, kue ini berbentuk seperti mata kerbau, walau mata kerbau jelas berbeda bentuknya dengan kue ini.
Awalnya ini kue adalah mendhut, walau mendhut hanya terdiri dari sebuah tongolan saja sedangkan ini ada 2 tongolan. Ada juga yang bilang ini adalah Kue Putri Mandi. Kalo Kue Putri Mandi, kira-kira apanya yang membuat kue ini disebut “Putri mandi”, ya?
Kue ini terbuat dari tepung ketan yang berisi unti (parutan kelapa bercampur gula merah) berwarna merah dan hijau kemudian disiram dengan adonan putih yang terbuat dari tepung beras. Adonan ini kemudian dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus.
Sedangkan versi lain menyebutkan bahwa Kue Mata Kebo itu berisi kacang hijau, sedangkan yang berisi unti ini disebut dengan Kue Putri Mandi. Seperti yang saya bilang, bentuk boleh sama, tapi nama bisa beda.
Rasanya? Kenyal-kenyal tapi manis.


Kue YANGKO


Yangko adalah sejenis makanan ringan yang terbuat dari bahan tepung ketan, bentuknya persegi empat mungil, yang ditambah dengan baluran tepung terigu, Salah satu makanan khas Kotagede ini berisi campuran cincangan kacang dan gula, namun kini semakin banyak rasa baru bermunculan untuk menyemarakkan cita rasa yangko. Selain rasa asli, kini bisa pula ditemui yangko dengan rasa buah-buahan, seperti strawberry, durian, dan melon.
Yangko memiliki kekhasan rasa. Kecuali rasa manis yang dominan, di dalam yangko kita juga bisa merasakan wangi aromanya. Bentuknya yang kecil menyebabkan kita tidak cepat ketika menyantapnya. Nuansa kenyil-kenyil atau cetit-cetit ketika kita mengunyahkan mengundang sensasi kenikmatan bersantap.
Meski banyak ditemui di Kotagede, namun ada yangko juga dapat ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh di Yoyakarta seperti kawasan pathuk, Jl Gadjahmada, dan jl. Mataram.


KUE KIPO (IKI OPO)


Kudapan kecil  yang berwarna hijau ini merupakan salah satu kue basah tradisional yang memasaknya dengan cara dipanggang. Paduan kelapa parut dengan gula merah, dan dilapisi oleh kulit yang diolah dari tepung ketan, kipo memiliki rasa yang lezat. Ukurannya yang kecil justru membuat kita semakin ketagihan. Satu potong kipo besarnya tidak lebih besar dari jempol tangan orang dewasa (jadi cukup kecil). Kipo dibuat dari adonan tepung ketan sebagai kulit luarnya. Di dalam kulit tersebut terdapat isi yang dinamakan enten-enten yang terbuat dari parutan kelapa muda yang dicampur dengan gula jawa. Perpaduan enten-enten dengan kulit kipo yang terbuat dari ketan yang diadoni dengan santan dan sedikit garam ini setelah dipanggang akan menghasilkan rasa yang manis-manis gurih.


Makanan Gudeg



Gudeg (bahasa Jawa gudheg) adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan dibumbui dengan kluwek. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek.
Ada berbagai varian gudeg, antara lain:
  • Gudeg Kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang.
  • Gudeg Basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer.
  • Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih.




Bakpia

Bakpia adalah nama makanan khas Jogja yang kerap dipakai sebagai oleh-oleh wisatawan yang datang ke Jogja. Pusat pembuatan bakpia selama ini dikenal di Pathuk, sebuah kawasan di belakang Malioboro, tepatnya di sebelah barat kawasan Malioboro. Kawasan ini sangat terkenal karena merupakan salah satu pusat kuliner di Kota Yogyakarta dan menjadi “jujugan” wisatawan untuk mencari oleh-oleh khas Jogja.



Sate Sapi Di Lapangan Karang Kotagede


Kota Yogyakarta sangat dikenal dengan keragaman kulinernya. Di samping gudheg, beragam kuliner dapat dinikmati selama berada di Kota Yogyakarta. Lapangan Karang Kotagede adalah salah satu tujuan wisata kuliner yang dapat menjadi tujuan siapa saja yang memiliki kegemaran mencicipi makanan khas. Disana disajikan sate sapi dengan ketupat dan sayur tempe yang tidak dijumpai di tempat lain. Dengan suasana malam yang tenang, anda juga dapat menikmati beragam masakan kambing yang memiliki cita rasa tinggi. Nikmati suasana yang lain dengan hidangan yang khas dari Yogyakarta di Lapangan Karang Kotagede Yogyakarta


Thiwul dan Gatot

Thiwul


 Gatot

Tiwul, atau Thiwul adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ketela pohon atau singkong. Penduduk Pegunungan Kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul) dikenal mengonsumsi jenis makanan ini sehari-hari. Tiwul dibuat dari gaplek.  Sebagai makanan pokok, kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul dipercaya mencegah penyakit maag, perut keroncongan, dan lain sebagainya. Tiwul pernah digunakan untuk makanan pokok sebagian penduduk Indonesia pada masa penjajahan Jepang.

Terimakasih telah membaca: Makanan Khas Jogja

Sumber: pariwisatajogja.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar